KAJEN – Berbicara tentang pembangunan, selama ini
Pemkab. Pekalongan hanya berkonsentrasi pada pembangunan di daerah hilir saja.
Jarang sekali pembangunan dilakukan di tingkat hulu. Sementara kalau berbicara
masalah hutan di Kabupaten Pekalongan, selama ini masyarakat hanya menjadi
penonton saja, mereka bisa berinteraksi dengan hutan, tetapi tidak bisa menyapa
dengan baik. Masyarakat asing bisa masuk hutan.
Hal tersebut membuat Bupati Pekalongan H. Asip
Kholbihi, SH, M,Si ingin merubah pandangan masyarakat menjadi masyarakat yang
mengenal hutan, masyarakat yang mempunyai budaya, bergaul dan akrab dengan
hutan, tidak hanya menjadi penonton saja seperti yang selama ini kita saksikan.
“Kita harus bertanggungjawab, bekerja keras dan bekerja cerdas untuk membangun
di tingkat hulu,” tegasnya pada acara Penandatangan Nota Kesepahaman (MoU) “Petungkriyono
Cultural - Techno Forestry Park” antara Pemkab. Pekalongan, Perum Perhutani KPH
Pekalongan Timur dan Yayasan Kehutanan Indonesia, Jumat (5/8) di aula lantai I
Sekretariat Daerah.
Menurut Bupati, penandatangan yang dilakukan merupakan
salah satu upaya Pemkab. untuk berikhtiar bagaimana Pemkab. Pekalongan bisa
mempunyai inisiatif progressif bagi Indonesia dan Dunia dalam rangka membangun dengan konsep
keseimbangan “Keanekaragaman hayati (biodiversity) Petungkriyono
adalah sumber daya dan kekayaan alam bagi kita, namun juga warisan bagi
anak-cucu di masa yang akan datang. Oleh karena itu harus dikelola dengan
bijaksana agar dapat memberi makna bagi kemanusiaan. Dan kita ingatkan pada generasi
muda untuk peduli pada lingkungan dan bertanggungjawab melestarikannya,” tegas Bupati.
Lebih lanjut Bupati menyampaikan beberapa langkah
strategis yang penting dilakukan dengan berbagai pihak yang benar-benar
memiliki komitmen untuk bersama-sama mengembangkan gagasan yang memadukan
kepentingan ekonomi masyarakat, peningkatan PAD dan sekaligus kepentingan
konservasi ekologi. “Sinergitas Tripartait antara Pemkab. Pekalongan, Perum
Perhutani KPH Pekalongan Timur dan Yayasan Kehutanan Indonesia ini
menghadirkan jawaban atas tantangan tersebut,” tambahnya.
Dijelaskan Bupati, program–program yang akan
dilaksanakan dalam “Petungkriyono Cultural-Techno Forestry Park” ini
diantaranya akan dikembangkan program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat,
eko edukasi wisata, laboratorium alam, bank genetika, bank bibit, teknologi
hijau, energi hijau, keuangan hijau (green financing), dan lain-lain program
yang relevan.
“Pemkab. Pekalongan akan memberikan dukungan
bagi pengembangan program ini, baik itu infrastruktur, regulasi / kebijakan dan
bentuk-bentuk dukungan lain yang diperlukan, sesuai dengan kewenangan dan
aturan perundang-undangan,” jelas Bupati.
Tak lupa Bupati juga menyampaikan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
pengelolaan program Petungkriyono
Cultural-Techno Forestry Park tersebut, diantaranya adalah pentingnya
pemberdayaan potensi dan kearifan lokal yang sudah ada, sehingga masyarakat
Petungkriyono bukan hanya menjadi “penonton” dari program ini. Disamping itu
juga diutamakan konsep keseimbangan sehingga tetap terjaga kelestariannya,
termasuk fungsi ekologisnya, dan dapat memberi kontribusi lebih luas bagi
Indonesia dan dunia. “Libatkan pula masyarakat setempat pada setiap prosesnya, baik
perencanaan dan pelaksanaan program, sehingga akan tumbuh sense of
crisis dan sense of belonging (kepedulian dan rasa memiliki) masyarakat
untuk ikut menjaga tujuan dari program ini, “ pesannya.
Terakhir Bupati menyampaikan harapannya dengan dilasanakannya MoU ini
pengembangan dan pengelolaan kawasan Petungkriyono akan menjadi terarah dan
terprogram dengan baik serta terpetakan dengan baik segala data dan potensi
kawasan Petungkriono sebagai dasar memformulasikan kebijakan-kebijakan dan
langkah strategis yang dianggap perlu. “Semoga acara hari ni tidak berhenti
pada MoU saja, namun ada tindak lanjut yang nyata dalam rangka percepatan
pembangunan sebuah kawasan,” harapnya.
Di bagian lain Dirjen
Planologi dan Tata Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (
Bapak Prof.DR.Ir. San Afri Awang, M.Sc) menyampaikan acara penandatanganan ini
sangat mendasar karena memang type seperti ini, Kabupaten Pekalongan adalah
yang pertama di seluruh Jawa. “Sekaligus kita membuktikan bahwa ada beberapa
perubahan dalam tata pemerintahan kita seperti direction Presiden yang ingin
mengkapitalisasi kekayaan alam agar menjadi kekuatan ekonomi baru di dalam
kancah perekonomian Internasional,” ujarnya.
San Afri Awang menambahkan bahwa pengelolaan sumber daya alam harus berubah,
dan kuncinya adalah pemberdayaan masyarakat. “Harapan saya, Yayasan Kehutanan
Indonesia menjadi pembuka pertama dimana kalau hubungan kelembagaan Perhutani
dan Pemda dalam kontek nasional sifatnya konkuren. Jadi kehutanan itu dikelola
oleh Pusat, Propinsi dan Kabupaten. Tetapi khusus di Jawa diberikan pre
velatenya pada Perum Perhutani,” jelas Awang.
Ditambahkan Awang, dengan Cultural -
Techno Forestry Park ini diharapkan akan menjadi icon dari Kabupaten
Pekalongan. ”Dan itu tidak bisa disandarkan pada satu komponen saja
tetapi semua komponen harus mendukungnya, Ini harus kita bangun dari waktu ke
waktu” harap Awang.
Sementara Komisi II DPR RI (
Budiman Sudjatmiko, M.Sc, M.Phill ) yang hadir dalam acara tersebut mengatakan
bahwa Indonesia memiliki kekayaan hayati laut dan darat terkaya di dunia,
disamping itu juga merupakan negara dengan sosial kultur yang terkaya pula.
Menurutnya,
ini adalah sebuah upaya pertama yang diketahui, dimana dua jenis kekayaan
tersebut hendak disatukan dalam satu wilayah yang secara fenomental mulai
dibuka hari ini di Pekalongan. “Selamat untuk Pekalongan. Petungkriyono adalah
upaya sadar terorganisir dan sistematis untuk menunjukkan pada dunia bahwa
Indonesia adalah negara dengan Bio dan Socio Cultural terkaya di dunia,”
ujarnya.
Tags:
Warta Kajen
