


Dibalik musibah banjir yang menimpa di beberapa wilayah kecamatan Di kabupaten pekalongan, ternyata ada cerita kisah kepahlawan dari para sukarelawan yang membantu para korban banjir. Tidak kurang 10 organisasi kemasyarakat yang dibentuk oleh pemerintah maupun masyarakat sigap turun langsung membantu korban banjir. Tercatat sukarelawan dari Palang Merah Indonesia (PMI), Tagana, Pramuka Perduli, Ubalopa (Unit Bantuan Pertolongan Pramuka), Saka bahari, Satpol PP, TNI, POLRI dan BPBD ( Badan Penanggulan Bencana Daerah)
Menurut Dwi salah seorang anggota sukarelawan dari Palang Merah Indonesia (PMI) menyampaikan bahwa adanya banjir yang menimpa warga kota Santri ini dirinya ikut merasa prihatin. Selanjutnya sebagai tenaga sosial kemanusiaan, untuk meringankan beban duka para korban dirinya bersama anggota PMI dan sukaralawan lain terpanggil untuk mengevakuasi, membuat dapur umum dan melakukan kegiatan lain dalam rangka mendukung para petugas pelaksana dan para korban banjir.
Ia saat ini ditugaskan sebagai penanggungjawab dalam distribusi makanan matang nasi bungkus kepada para pengungsi. Ia menyampaikan dukanya jika para para korban ini meminta nasi yang dimasak oleh PMI ini dengan tergesa gesa meminta didahulukan.” Para korban banjiri kadangkala meminta nomor satu untuk kelompoknya padahal hal tersebut sudah ada scedule pembagiannya agar tertib”ungkap PNS yang diperbantukan di PPK Kabupaten Pekalongan ini.
Selanjutnya menurut pria yang rela dua hari belum pulang kerumah ini, menambahkan kedukaannya jika tidak bisa membantu secepatnya para korban bencana dikarenakan adanya kekurangan bahan dan jumlah peralatan yang kurang memadai. Padahal percepatan permintaan para pengungsi untuk segera mendapat asupan makanan dengan kemampuan untuk memproduksi nasi bungkus ini tidak seimbang.”Duka lainnya jika permintaan mereka mendadak sementara kita harus mempersiapkan awal lagi sehingga mereka membutuhkan waktu lama untuk terpenuhi permintaan mereka”terang mas robot panggilan akrab pemuda ini.
Sementara sukanya, jika bisa membantu mereka yang sedang ditimpa adalah kepuasan tersendiri di hati. Sehingga apabila ada panggilan untuk kumpul segera kapanpun, para anggota PMI untuk segera membantu jika ada kejadian atau musibah yang menimpa disuatu tempat , ia dan teman teman akan semangat untuk datang.
“ Karenanya jika ada musibah atau kegiatan darurat lain terjadi, hal itu sebagai sarana untuk ajang silahturohmi antar anggota untuk merekatkan sukarelawan PMI, untuk mempratektan terhadap apa yang telah didapat dari ilmu yang sebelumnya didapat sesuai SOP dan sebagai media untuk mengevaluasi kedalam terhadap apa yang telah dilaksanakan” terangnya.
Terkait dengan musibah banjir kali ini, pak Dwi menyampaikan bahwa dapur umum yang menjadi tanggung jawab PMI ini setiap kali memasak di butuhkan 2.432 nasi bungkus untuk dibagikan 14 titik di 4 kecamatan yaitu Tirto, Wiradesa, Siwalan dan Wonokerto. Untuk saat ini dibutuhkan beras sebanyak 5o kuintal lebih untuk sekali memasak nasi bungkus. “ Sampai dua hari ini sudah 2 kwintal beras yang kami masak untuk memenuhi permintaaan para korban banjir”terangnya.
Sementara itu tenaga sukarelawan lain dari SATPOL PP , Wawan Bajrah menyampaikan tentang kegiatan mereka untuk menolong korban banjir ini. Pada kesempatan ini pihaknya untuk menolong mengevakuasi para korban banjir ketempat yang telah ditentukan POSKO penanganan Bencana.
“ Kami bertugas untuk mengevakuasi para korban banjir ini, terutama anak anak dan orang tua karena mereka yang untuk untuk dipindahkan duludan mensuport tim lain jika ada yang membutuhkan” terang warga Desa Rembun Kecamtan Siwalan ini.
Ia menyampaikan bahwa melakukan tugas ini dengan ikhlas dan suka rela, sebagai tugas negara dan tugas kemanusian. sehingga ia tak segan segan untuk mengendong para orang tua yang renta.” Kami sangat senang membantu mereka untuk memindahkan ketempat yang aman dan mengevakuasi dari rumah mereka yang telah terendam air “ akunya.
Sementara itu Reza salah satu anggota UBALOKA (unit bantuan pertolongan pramuka ) menyampaikan rasa iklasnya bisa bergabung dengan para sukarelan lain yang lebih senior untuk membantu korban banjir ini. “ kami treyuh mas melihat perderitaan mereka , sehingga menjadi kebanggan sendiri jika bisa membantu meringankan beban mereka meskipun hanya sekedar bantuan tenaga saja “ imbuhnya.
(sumber:Humaskab.pekalongan)
Tags:
Warta Kajen