KAJEN - Setelah diterjang longsor pada awal tahun 2014, jalan utama yang
menghubungkan Desa Luragung, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten
Pekalongan, terputus. Upaya pemerintah untuk membangun jalan baru
tidak sesuai harapan, karena proyek jalan dan jembatan senilai Rp 1,7
miliar hanya selesai 70 persen sehingga tidak bisa digunakan
masyarakat. Jalan darurat yang dibangun pun kondisinya sangat
memprihatinkan. Saat musim hujan seperti saat ini, jalan darurat itu
layaknya sungai berlumpur yang membahayakan jika dilalui kendaraan,
padahal di kanan-kirinya berupa jurang curam.
Kondisi jalan darurat yang parah itu mengancam keselamatan anak-anak
sekolah dari Desa Luragung. Hampir setiap hari, mereka harus melawan
maut saat melintasi jalan darurat sepanjang 150 meter tersebut.
Pasalnya, kondisi jalan darurat yang masih berupa tanah dengan posisi
menanjak rawan menyebabkan kecelakaan bagi anak-anak sekolah yang
menggunakan sepeda motor. Padahal, kanan-kiri jalan itu berupa jurang
sedalam ratusan meter. "Setiap hari saya dan teman-teman melintasi
jalan itu. Hampir setiap hari pula kami terpeleset karena jalan licin
dan berlumpur. Padahal, medannya sangat berbahaya," keluh Heri
Andiyanto (17), siswa kelas X SMA Kandangserang dari Desa Luragung.
Bagi pelajar yang diberi uang saku tambahan oleh orang tuanya, memilih
menggunakan jasa warga sekitar untuk menuntun sepeda motornya
melintasi jalan darurat tersebut. Maklum, tarif untuk menuntun sepeda
motor itu cukup tinggi bagi para pelajar, yakni Rp 10 ribu sekali
tuntun.
Kepala SMAN 1 Kandangserang, Daenuri, menyatakan, dengan kondisi jalan
yang sangat sulit, berpotensi menyebabkan anak putus sekolah. Pada
tahun 2014, lanjut dia, sudah ada dua anak dari Desa Luragung yang
putus sekolah. "Tahun ini kalau tidak diperbaiki, mungkin ada lagi
anak putus sekolah. Maklum, sebagian anak didik kami bukan berasal
dari kalangan yang mampu. Padahal, angka partisipasi kasar di Desa
Luragung cukup tinggi," katanya.
Dikatakan, sebelumnya, pihak sekolah sempat berupaya untuk menjemput
anak sekolah menggunakan mobil pikap terbuka. Para siswa hanya perlu
membayar Rp 5 ribu sebagai ganti bahan bakar. Namun, banyak siswa yang
tidak bisa bayar, akhirnya sekolah tidak melakukan penjemputan lagi
lantaran tidak memiliki anggaran untuk terus menerus menjemput para
siswa.
menghubungkan Desa Luragung, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten
Pekalongan, terputus. Upaya pemerintah untuk membangun jalan baru
tidak sesuai harapan, karena proyek jalan dan jembatan senilai Rp 1,7
miliar hanya selesai 70 persen sehingga tidak bisa digunakan
masyarakat. Jalan darurat yang dibangun pun kondisinya sangat
memprihatinkan. Saat musim hujan seperti saat ini, jalan darurat itu
layaknya sungai berlumpur yang membahayakan jika dilalui kendaraan,
padahal di kanan-kirinya berupa jurang curam.
Kondisi jalan darurat yang parah itu mengancam keselamatan anak-anak
sekolah dari Desa Luragung. Hampir setiap hari, mereka harus melawan
maut saat melintasi jalan darurat sepanjang 150 meter tersebut.
Pasalnya, kondisi jalan darurat yang masih berupa tanah dengan posisi
menanjak rawan menyebabkan kecelakaan bagi anak-anak sekolah yang
menggunakan sepeda motor. Padahal, kanan-kiri jalan itu berupa jurang
sedalam ratusan meter. "Setiap hari saya dan teman-teman melintasi
jalan itu. Hampir setiap hari pula kami terpeleset karena jalan licin
dan berlumpur. Padahal, medannya sangat berbahaya," keluh Heri
Andiyanto (17), siswa kelas X SMA Kandangserang dari Desa Luragung.
Bagi pelajar yang diberi uang saku tambahan oleh orang tuanya, memilih
menggunakan jasa warga sekitar untuk menuntun sepeda motornya
melintasi jalan darurat tersebut. Maklum, tarif untuk menuntun sepeda
motor itu cukup tinggi bagi para pelajar, yakni Rp 10 ribu sekali
tuntun.
Kepala SMAN 1 Kandangserang, Daenuri, menyatakan, dengan kondisi jalan
yang sangat sulit, berpotensi menyebabkan anak putus sekolah. Pada
tahun 2014, lanjut dia, sudah ada dua anak dari Desa Luragung yang
putus sekolah. "Tahun ini kalau tidak diperbaiki, mungkin ada lagi
anak putus sekolah. Maklum, sebagian anak didik kami bukan berasal
dari kalangan yang mampu. Padahal, angka partisipasi kasar di Desa
Luragung cukup tinggi," katanya.
Dikatakan, sebelumnya, pihak sekolah sempat berupaya untuk menjemput
anak sekolah menggunakan mobil pikap terbuka. Para siswa hanya perlu
membayar Rp 5 ribu sebagai ganti bahan bakar. Namun, banyak siswa yang
tidak bisa bayar, akhirnya sekolah tidak melakukan penjemputan lagi
lantaran tidak memiliki anggaran untuk terus menerus menjemput para
siswa.
Tags:
Warta Kajen
