KAJEN - Semburan Lumpur Depok kecamatan siwalan kabupaten pekalongan,setelah dikaji oleh Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Yogyakarta ternyata mengandung unsur gas metana atau 'methane' (CH4) 92 persen. Selain itu, diperkirakan masih adakandungan gas-gas lainnya yang belum bisa diketahui jenisnya dan saat
ini masih diteliti di laboratorium.
Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan, Bambang Sudjatmiko, Kamis (19/11),
membenarkan hasil kajian dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi Yogyakarta tersebut. Menurutnya, gas metana tidak beracun,
namun mudah terbakar jika ada api di dekatnya. Oleh karena itu,
pihaknya berencana untuk menutup kawasan lumpur tersebut dengan pagar
dan dipasang papan peringatan agar masyarakat sekitar tidak bermain
api di sekitar lokasi semburan, termasuk tidak merokok di dekat lokasi
itu.
"Kita rencananya akan memasang pagar dan papan peringatan di lokasi
itu. Gas metana tidak beracun, namun mudah terbakar dan meledak jika
ada api," ungkap dia.
Menurutnya, potensi semburan masih ada. Oleh karena itu, lubang
bekas pengeboran itu ditutup. Namun, lanjut dia, lubang itu tidak akan
ditutup rapat agar gas metana yang keluar bisa bercampur dengan udara,
sehingga bisa mengurangi efek bahayanya.
Selain diteliti oleh tim ahli dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi
Bencana Geologi Yogyakarta, tim ahli dari Badan Geologi Bandung
rencananya juga akan meneliti lokasi semburan tersebut. Namun, kapan
tim dari Badan Geologi Bandung akan turun, pihaknya belum bisa
memastikannya. "Rencananya tim dari Badan Geologi Bandung juga akan
turun untuk melakukan kajian," terang dia.
Tags:
Warta Kajen