Menurut Cayumi, 33, anak pertama dari Wasro, rumah itu dihuni oleh ayahnya, seorang adiknya dan dia bersama tiga anaknya. Sementara suami dari Cayuti merantau ke Jakarta.
"Anak saya tiga, Yulianti, 10, Iqbal Maulana Saputra, 3, Lestari, 10 bulan. Suami Kaenan, 35, jadi buruh di Jakarta. Kalau bapak kerja serabutan, kadang ikut orang gergaji kayu," katanya.
Diungkapkan, kondisi rumah milik orang tuanya itu tidak layak huni sudah terjadi sejak dirinya kecil hingga sekarang. Sehingga, saat hujan terjadi rumah tersebut langsung dipenuhi air.
"Kalau pas hujan ya tidak bisa tidur sama sekali. Air masuk rumah semua seperti banjir. Jadi kami kumpul di ruang ini (ruang utama yang jadi satu dengan kandang ayam dan dapur), naik diatas dipan ini. Di sini lumayan, air terhalang terpal diatas itu," katanya sambil menunjuk dipan tanpa kasur yang didudukinya.
Diungkapkan, hingga kemarin dirinya belum pernah mendapat bantuan sama sekali dari berbagai pihak. Bahkan, ironisnya dia juga mengaku tidak mendapatkan jatah beras untuk rakyat miskin (raskin).
"Belum ada bantuan sama sekali. Raskin itu saya biasanya dapat satu kantong, sekitar 2 Kg hingga 4 Kg saja. Itupun saya mintanya harus ngemis-ngemis. Kalau saya tidak minta, saya juga tidak dapat (raskin)," ungkapnya.
Biaya hidupnya sehari-hari hanya mengandalkan kiriman dari sang suami yang ada diperantauan. Sebab, ayah dan adiknya hanya bekerja serabutan saja.
"Suami pulangnya tidak tentu, kadang setahun sekali, kadang tiga bulan sekali. Uang yang dikirimi suami, sekitar Rp 300 ribu - Rp 400 ribu," terangnya.
Keluarga miskin itu juga tidak memiliki MCK. Sehingga, aktivitas MCK dilakukannya di sungai seberang rumahnya.
"Sumur ada, tapi tidak ada WCnya. Jadi kalau buang air besar di sungai," akunya.
Hal senada dikatakan Karyani, 30, adik Cayumi. Kondisi rumah yang memprihatinkan itu sudah sejak dia kecil terjadi.
"Sedih mas lihat rumah kami seperti ini. Inginnya memperbaiki, tapi kami tidak memiliki biaya. Tidur saja susah kalau hujan, sebab air masuk semua," katanya.
Pemuda yang mengaku bekerja serabutan itu mengungkapkan, hingga kemarin dia dan keluarganya belum mendapatkan bantuan sama sekali. Dia berharap ada bantuan dari pemerintah untuk memperbaiki rumah tersebut.
Tags:
Warta Kajen