KAJEN
- Pertaubatan Sri Hartatik (48) dan suaminya Agus Tri Hariyanto (48) warga Desa
Kalilembu, Kecamatan Karangdadap, Kabupaten Pekalongan, yang mengaku
mendapatkan wahyu sebagai utusan Tuhan, dan melakukan solat lima waktu
menghadap ke timur, dilakukan di Masjid Agung Al Muhtarom Kabupaten
Pekalongan, dengan dituntun oleh para ulama setempat dan disaksikan oleh
Bupati Pekalongan,Muspida,Jama'ah Sholat jum'at serta ratusan masyarakat setempat.
Sri Hartatik,berusaha melakukan
klarifikasi bahwa dirinya tidak pernah mengaku sebagai nabi kepada
siapapun. Selain itu, dia juga mengaku tidak mengarang kitab yang
dinamainya sebagai Al Kitab Na'sum namun mengatakan dari gaib yang menjadi nyata dan meminta
kepada pemerintah dan pihak terkait, untuk tidak memusnahkan kitab itu tapi dipahami terlebih dahulu.
Setelah
itu, Sri Hartatik mengucapkan surat pernyataan yang antara lain berisi
bahwa dirinya menyadari arah kiblat yang dilakukannya, yakni timur,
tidak sesuai dengan ajaran Islam. Dia juga mengaku akan kembali ke jalan
yang benar dengan berpegang pada Al Quran dan Al Hadist.
"Saya
juga meminta maaf kepada seluruh umat Islam dan masyarakat di seluruh
Indonesia dan Kabupaeten Pekalongan pada khususnya. Jika saya kembali
mengulanginya, akan dituntut secara hukum," katanya.
Ketua
FKUB Muhamad Dhukron, mengatakan, pihaknya sudah membaca penuh kitab
Na'sum karangan Sri Hartatik. Sehingga dirinya mengetahui sejumlah
penyimpangan dalam kitab tersebut.
"Sejumlah
penyimpangan itu antara lain yakni menyampuradukkan ajaran Islam,
Kristen, Katolik, Zabur dan Taurot. Kemudian menurutnya wahyu dari
Jibril itu harus disampaikan kepada masyarakat yang tidak menerima kitab
itu, akan mendapat bencana," katanya.
Menurutnya,
hasil pemeriksaan psikiater terhadap Sri Hartatik dan suaminya tidak
ditemukan mengalami gangguan kejiwaan. Namun Sri Hartatik mengaku
mengalami sakit di pinggang karena di santet orang.
"Ada
620 halaman, ada surat muhammad dan ayat-ayat kepala, kaki dan lainnya.
Mungkin itu diperoleh dari bisikan roh yang masuk ke jiwanya. Sebab dia
mengaku memiliki ilmu rogoh sukma, dan katanya bisa memanggil ustad
Jefri, Ustad Rahmad, Kyai Basari," terangnya.
Diakuinya,
setidaknya ada sembilan orang pengikut Sri Hartatik termasuk
keluarganya. Pihaknya berharap Sri Hartatik dan suaminya benar-benar
bertaubat dan kembali ke jalan yang benar.
"Dia
sudah kembali dan semoga betul-betul taubat sebagai seorang Islam.
Pendampingan melalui Kemenag dan masyarakat sekitar, untuk mengajarkan
dan membimbing yang benar. Masyarakat sekitarnya minta dibuatkan musola,
sebab pemukiman di sekitarnya hanya sedikit," harapnya.
Sementara
itu Ketua Umum MUI Kabupaten Pekalongan, KH Rozikin Daman, membenarkan
hal itu. Menurutnya apa yang dilakukan oleh Sri Hartatik menyerupai
Musadek.
"Dia
merasa mendapatkan wahyu, padahal pada ajaran Islam wahyu terakhir
diterima oleh Nabi Muhammad. Jadi itu antara lain
penyimpangan-penyimpangannya dan bertentangan dengan Al Quran," katanya.
Pihaknya
meminta Sri Hartatik dan suaminya untuk benar-benar mencabut dan
meninggalkan apa yang selama ini dilakukannya. Selain itu, pihaknya juga
meminta keduanya untuk berniat bersungguh-sungguh tidak akan mengulangi
perbuatan itu selamanya atau taubat.
"Perlu
akan dilakukan pembinaan terus menerus, bersama organisasi keagamaan
dan kemasyarakatan. Sebab, bagaimanapun dia masih labil," tambahnya.
Bupati
Pekalongan, Amat Antono, menilai pertaubatan dari Sri Hartatik dan
suaminya tersebut langkah cerdas dan bijak dari berbagai seluruh elemen
masyarakat itu. Sehingga Sri Hartatik bisa kembali ke jalan yang benar.
"Dengan
komunikasi yang baik dan pemahaman yang baik, sehingga ibu Sri Hartatik
bisa disadarkan dan bersumpah dan berjanji kembali ke jalan yang
benar," tambahnya.
Selain Mengucapkan Kalimat Syahadat,keduanya juga diberikan sejumlah
wejangan.Usai melakukan pertaubatan itu, keduanya enggan
berkomentar dan langsung meninggalkan lingkungan masjid, menggunakan
mobil dinas yang sudah disediakan oleh pemkab Pekalongan.
Tags:
Warta Kajen

